[Review] Sefryana Khairil - Sweet Nothings

Judul: Sweet Nothings
Pengarang: Sefryana Khairil
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 9797805336
Tahun: 2012
Tebal: 314 hlm.
Rating: 2.5/5 stars

Mulai: 10 Februari 2015
Selesai: 11 Februari 2015



Sinopsis:
Saskia adalah seorang janda berumur 38 tahun dengan 2 anak, Abi dan Tasya. Untuk menopang kehidupan keluarga setelah kematian suaminya, Saskia membuka usaha katering dan juga toko kue Sweet Sugar. Suatu hari Sweet Sugar mempekerjakan pastry chef baru bernama Harsa yang berumur 30 tahun. Ternyata bukan hanya hidangan yang dibuat oleh chef Harsa yang yummy, tapi juga orangnya. Hal ini turut dirasakan oleh Saskia yang kemudian dengan sekuat tenaga membuang perasaan tersebut. Hati Saskia pernah disakiti oleh mendiang suaminya, dan kini dia tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi. Terutama chef baru yang lebih muda dari dirinya tersebut.


Review:
Dikarenakan tidak tersedia sinopsis yang menjelaskan jalan cerita maka saya membuat sendiri sinopsisnya. Bagaimana menurut kalian? Kalo menurut saya hancur banget, hahaha. Sinopsis karangan saya maksudnya, bukan bukunya. Jujur saya memberikan 2.5 stars itu karena kebingungan saya selama membaca buku ini. And here's why...

Dari cover buku sebetulnya biasa saja bagi saya. Saya bahkan tidak sadar kalau ini buku yang mengandung masakan, kue, dsb. Jadi saya cuek saja saat mengambil buku ini hampir tengah malam dalam keadaan perut setengah kosong. Alhasil setelah 1 bab saya berhenti dulu untuk mencari snack. Yang membuat saya jadi ngiler selama membaca buku ini adalah ilustrasi di bagian dalam buku dan deskripsi kue yang dijabarkan dengan informatif dan mudah saya bayangkan. Bahkan saat ini saya mulai lapar lagi *usap-usap perut*
Saskia menggigit kue perlahan, merasakan terjangan harum cokelat, krim, dan rhum di antara lembutnya kue dan kental lelehan cokelat di dalam kue menggoda seluruh saraf lidahnya. Ia memejamkan mata, membiarkan sensasi kue itu bertahan sesaat sebelum tertelan. (hlm. 4)
Pada dasarnya buku ini terbagi menjadi 5 bagian yang menggambarkan proses yang terjadi antara Saskia dan Harsa. Ada prepare the cake pan, mix the ingredients, bake the cake, cool & frost the cake, dan terakhir time for dessert. Di bagian awal setiap bab juga disertai dengan sub-bab dan ada penggalan lirik lagu yang sesuai dengan jalannya cerita. Dan ternyata selera musik saya dengan penulis mirip *wink*. Dan hal positif lainnya: buku ini quotable banget.
"You can't move on if you always look back, Babe. The past is not a place to live in. It's a storage. A place where we put our old or used stuff." (hlm. 77)
Dari sekian banyak hal positif dari buku ini, semestinya saya memberikan minimal 3 bintang dari buku ini. Tapi ujung-ujungnya saya hanya memberikan 2.5 bintang karena beberapa alasan. Alasan utama adalah karena saya tidak bisa relate sama sekali dengan Saskia. Pada dasarnya latar belakang saya dan dia memang berbeda jauh, secara saya masih awal 20an. Tapi deskripsi tokoh yang digambarkan saat POV Saskia benar-benar membuat saya sulit membayangkannya.
Mereka berjalan menuju eskalator untuk naik ke lantai selanjutnya. Tanpa pernah diduga Saskia, ia merasakan ada tangan menyentuh punggungnya, seakan ingin melindunginya. Sekilas, ia melirik Harsa di sampingnya. Jantungnya berdegup keras. Ia bagai tersengat listrik. Entah mengapa, ia justru merasa aman.
Justru saat POV Harsa saya lebih mudah mengerti. Itu hal yang cukup aneh untuk saya, karena biasanya lebih mudah bagi saya untuk memvisualisasikan isi buku saat POV dari tokoh perempuan. Aneh tapi nyata.

Hal berikutnya yang membuat saya kurang menyukai buku ini yakni penggunaan kata 'gusar' yang disematkan pada Saskia berulang kali. Saya sampai cek di KBBI Online untuk menemukan artinya: marah, berang. Apakah Saskia tidak takut terkena darah tinggi kalau marah terus menerus? Dan penggunaan kata gusar juga dilakukan lebih dari 2 atau 3 kali makanya saya sampai ingat dan akhirnya gusar terhadap buku ini.

Selain kata gusar, Saskia juga seringkali disebutkan merasa resah dan gelisah. Dari situ saya merasa bahwa pemilihan kata dari buku ini memang tidak saya sukai. Istilahnya not my cup of tea. Dan hal tersebut berpengaruh sangat besar pada penilaian saya terhadap buku ini, terutama pengarangnya Sefryana Khairil. 

Sesuai tradisi saya selama ini, saya tidak menyimpan ekspektasi tertentu dari suatu pengarang saat saya pertama kali membaca karyanya. Tapi kalau diksi yang digunakan dalam buku pertama yang saya baca ternyata tidak saya sukai, akan sangat sulit bagi saya untuk menyukai buku lain dari penulis tersebut. Sebetulnya penasaran sih sama buku Coming Home karena ceritanya masih bersambung dari buku ini. Tapi mungkin akan saya baca kalau dapat pinjaman saja, agar tidak kecewa nantinya.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up