[Review] Luna Torashyngu - Golden Bird: Alpha

Judul: Golden Bird: Alpha (Goodreads)
Series: Beauty and the Best #4
Pengarang: Luna Torashyngu
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792287299
Tahun: Februari 2013 (Cetakan 2)
Rating: 4/5 stars
Format: Paperback
Mulai: 1 May 2015
Selesai: 1 May 2015

Review:
Pada dasarnya aku kurang tahu apakah buku ini pantas disebut buku ke-4 dari seri Beauty and the Best series atau tidak. Apabila dilihat dari jalan cerita, kejadian dalam buku ini terjadi sebelum buku ke-3, Golden Bird. Tapi karena buku ini diterbitkan sekitar 2 tahun setelah Golden Bird maka aku menganggap buku ini sebagai buku ke-4. 

Buku ini mempunyai prolog yang sangat panjang, totalnya ada 5 lembar (10 halaman). Cerita yang disampaikan juga sangat kompleks sehingga menurutku sangat mungkin untuk dijadikan 1 buku tersendiri. Selain prolog yang cukup seru, menurutku awal buku ini cukup lambat dan cenderung mengesalkan. Aku sudah sangat sering membaca karya Luna Torashyngu dan sangat terbiasa dengan alur cerita dan gaya bahasa yang digunakan. Tapi ada 2 kejanggalan yang sangat mengganggu bagiku sampai aku sempat berpikir bahwa ini buku terburuk dari penulis ini yang pernah aku baca.

Pertama dari panggilan antar-karakter dalam buku. Yang paling janggal menurutku adalah panggilan antara Yudha dengan Fiona. Pada awal pertemuan mereka (hlm. 53), Fiona memanggilnya Pak Yudha dan Yudha berbicara dengan menyebut saya-kamu. Berikutnya (hlm. 60) Fiona tetap memanggil Yudha sebagai Pak Yudha tapi Yudha berubah dengan menyebut dirinya sebagai aku. Terakhir (hlm. 84) Fiona memanggil Yudha dengan sebutan Kak Yudha. Meskipun aku mengerti bahwa perubahan panggilan itu seperti mencerminkan perubahan hubungan antara mereka berdua, menurutku itu terlalu cepat dan hasilnya jadi sangat aneh. 

Kedua, umur karakter yang ada di dalam buku. Aku tidak ada masalah dengan umur para orang tua yang ada di dalam buku. Umur anak mereka yang menjadi perhatianku. Karena ada banyak karakter dan ditambah dengan anehnya panggilan antara Fiona dan Yudha membuatku menjadi sangat perhatiaan dengan umur para karakter tersebut. Setelah melakukan perhitungan, pada awalnya ini tidak masuk akal. Masa iya Fiona lebih muda 2 tahun dari Tio ketika Tio dan Yudha berumur hampir sama? Itu kan artinya Yudha dan Fiona umurnya berbeda 2 tahun. Tapi itu lebih impossible karena Yudha sudah lulus S2 sedangkan Fiona baru berumur 17 tahun. Bingung kan?

Kira-kira di bagian tengah cerita aku baru sadar bahwa kesalahan itu terletak pada halaman 68 yang menyebut Tio hanya 2 tahun lebih tua dari Fiona. Deskripsi tentang umur mereka di bagian yang lain menjadi tepat dan akhirnya aku bisa melanjutkan membaca buku ini dengan lebih tenang.

Bagian terpenting dari buku ini menurutku ada di Bab 27. Selain menjadi anti-klimaks, pada bagian ini ada potongan kode program komputer yang sangat menarik buatku. Menarik karena pada saat membaca buku ini aku merasa kembali menjadi mahasiswi jurusan IT dan berusaha untuk memahami potongan kode itu. Meskipun aku tidak familiar dengan sintaksnya, tidak tahu bahasa pemrograman apa yang digunakan, aku merasa cukup mudah untuk mengerti apa tujuan potongan kode tersebut. Dan itu terasa seperti kemenangan kecil bagiku karena ternyata mata kuliah yang kupelajari ada gunanya :D

Jangan lari dari masalah, karena hal ini akan membuat hidup kita nggak tenang. Semakin kamu menghindari masalah, semakin dalam masalah itu meghantui kamu. (hlm. 100)

Overall, aku memberikan buku ini 4 dari 5 bintang. Meskipun dengan segala kekurangan yang ada, buku ini tetap akan aku rekomendasikan bagi mereka yang mau membaca buku ringan yang menyinggung dunia IT. 

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up