[Review] Tia Widiana - Mahogany Hills

Judul: Mahogany Hills
Penulis: Tia Widiana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792295849
Tahun: 2013
Tebal: 344 hlm.
Rating: 3/5 stars

Mulai: 14 Februari 2015
Selesai: 17 Februari 2015



Sinopsis:
Jagad Arya dan Paras Ayunda mendapatkan kehidupan yang mungkin diharapkan oleh semua pasangan pengantin baru. Segera setelah menikah, mereka tinggal di rumah bernama Mahogany Hills, di pelosok pegunungan Sukabumi yang sejuk dan indah.

Yang membedakan Jagad dan Paras dengan pasangan pengantin lainnya adalah mereka menikah bukan karena cinta. Baik Jagad maupun Paras punya rahasia yang mereka pendam. Kesepian, amarah, dan penyesalan bercampur aduk dengan rasa rindu dan kata cinta yang tak pernah terucapkan - semua itu senantiasa menggelayuti Mahogany Hills.

Dengan caranya masing-masing, Jagad dan Paras berjuang untuk menghadapi satu pertanyaan yang pada suatu titik harus mereka jawab: Sanggupkah mereka bertahan dalam pernikahan yang tak sempurna itu?


Review:
Buku ini merupakan pemenang Lomba Penulisan Novel Amore 2012. Meskipun ini pengarang baru, dengan adanya award tersebut saya langsung memiliki ekspektasi tertentu. Mungkin tidak setinggi ekspektasi saya terhadap pemenang buku Khatulistiwa Literary Award seperti Maryam, Pulang, dll. Tapi mungkin mendekati Kana di Negeri Kiwi yang sangat saya sukai, pemenang Juara 1 Lomba Novel Teenlit Writer 2005. Apalah dikata, ekspektasi saya tidak terpenuhi.

Awal mula saya membaca buku ini, saya sering terbalik mengaitkan Jagad sebagai perempuan dan Paras sebagai laki-laki. Alasan yang cukup logis menurut saya sih karena kedua nama tersebut mirip pengucapannya, dengan adanya 2 huruf vokal 'a' sehingga saya sering tertukar saat membacanya. Untungnya setelah pertengahan cerita saya menjadi terbiasa dan tidak tertukar lagi.
Dia menahan diri untuk tidak menjawab. Mungkin jika dia diam saja, Jagad tidak akan terlalu lama berada di sini. Jika Jagad bukan lelaki, Paras pasti sudah mengira Jagad sedang PMS.
Tapi bahkan perempuan yang PMS pun lebih ramah daripada Jagad. (hlm. 63)
Karakter tokoh dalam buku ini menurut saya masih setengah-setengah. Ada yang sudah cukup baik dieksplorasi seperti Paras dan Jagad, ada yang lumayan seperti Nadia, dan ada juga yang menurut saya masih sangat kurang tergali yakni Adrian. Nadia dan Adrian merupakan tokoh pendukung dari buku ini, sekedar informasi bagi kamu yang belum membaca buku ini. Karakter favorit saya secara general sih Paras, meskipun tidak suka-suka banget. Di bagian awal cerita ia diceritakan sebagai orang yang lebih sering mengalah. Tapi yang namanya perempuan, sesopan dan santun apapun kalau diperlakukan tidak menyenangkan terus-menerus pasti akan meledak juga akhirnya.

Buku ini dimulai setelah pernikahan Jagad dan Paras dilangsungkan. Alur yang digunakan cenderung maju, dengan adanya selipan flashback ke masa lalu di beberapa tempat. Plot yang ada dalam buku ini cukup mengalir dan terlihat disusun rapi. Untuk hal ini saya setuju dengan pendapat juri lomba ini. Twist dari buku ini cukup membuat saya terdiam, dan bukan dalam artian yang baik. Alasannya: apakah perlu banget twist amnesia seperti The Vow karangan Nicholas Spark? *spoiler*

Ada beberapa typo yang cukup aneh menurut saya. Dan saat saya melihat keterangan buku, saya baru sadar bahwa tidak ada nama editor yang tercantum dalam buku ini. Itu wajar tidak? Mungkin setelah ini saya harus browsing lagi untuk tahu lebih banyak tentang ini.
Nadia menatap Jagad, wajahnya kini terlihat kesal. Dengan tidak sabar dia mengisap rokok, lalu menekan ujung rokok itu ke asbak. Paras menyilangkan kaki dan melipat tangan di depan dada. (hlm. 184)
Mual di perutnya kini menjalar penjadi rasa pegal di sekitar pinggang. (hlm. 190)
Karin dan Rasya berjalan keluar dari kamar, memakan baju pesta putih yang berpotongan pas dengan tubuh mereka.
Bagian pertama itu harusnya hanya ada Nadia dan Jagad. Cukup syok saya tiba-tiba ada Paras disitu. Saya sempat mengira bahwa saya tertidur di saat lagi membaca. Tapi ternyata typo tingkat dewa, wkwk.  Dan untuk kutipan berikutnya, penjadi seharusnya menjadi dan memakan harusnya memakai. Typo ini cukup aneh bagi saya karena lokasi huruf 'p' dengan 'm' serta 'n' dengan 'i' cukup jauh di keyboard.

Overall saya tidak mencintai buku ini. Menyukai pun rasanya tidak. Tapi anehnya setelah selesai membaca buku ini saya sempat mengalami hangover yang biasanya hanya terjadi kalo saya selesai membaca buku yang sangat saya sukai. Maka dari itu saya menaikkan rating buku ini dari 2.5 menjadi 3 bintang.

Buku ini saya rekomendasikan untuk para penyuka buku romance. Saya pribadi mungkin akan membaca buku karangan penulis ini kalau dia menerbitkan buku lain. Tapi saya lebih pilih meminjam dibandingkan membeli sendiri karena penulis ini bukan favorit saya.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up