[Review] Windhy Puspitadewi - Morning Light

Judul: Morning Light (Goodreads, GagasMedia)
Pengarang: Windhy Puspitadewi
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979780433X
Tahun: 2010 (Cetakan 2)
Tebal: 180 hlm.
Rating: 4/5 stars
Format: Paperback
Mulai: 5 April 2015
Selesai: 5 April 2015


Review:
Berbeda dari biasanya, aku tidak memasukkan sinopsis buku dalam post review pertama bulan Mei ini. Review ini sudah aku coba susun dari minggu lalu, tapi selalu terhenti di bagian sinopsis. Rasanya aku memang sedang tidak mood untuk menuliskan sinopsis, dan juga tidak bisa menuliskan versi Goodreads karena tidak menjelaskan jalan cerita dalam buku sama sekali. Setelah dipikir-pikir, daripada aku menunda review buku lebih lama, lebih baik aku tetap menuliskan pendapatku tentang buku ini dan menunda menuliskan sinopsisnya saja.

Buku ini merupakan karya ke-4 dari Windhy Puspitadewi yang pernah saya baca, meskipun hanya 3 yang saya ingat jalan ceritanya. Satu kekurangan dari buku-buku karangan penulis ini, atau mungkin dari penerbitnya, adalah sinopsis yang tidak menjelaskan jalan cerita di dalam buku. Ketika melihat cover buku Seandainya atau Let Go pasti aku langsung ingat bahwa aku sudah membaca buku tersebut. Tapi aku tidak ingat jalan ceritanya tentang apa, dan tidak ada sinopsis yang mumpuni di bagian belakang buku sehingga percuma membacanya.

Dari segi jalan cerita, buku-buku Windhy yang pernah aku baca selalu berada di lingkungan SMA yang sudah kulalui bertahun-tahun yang lalu. Tapi kelebihan dari buku-buku Windhy adalah kemampuannya untuk menampilkan kehidupan anak SMA yang jauh dari stereotype yang ditampilkan sinetron Indonesia saat ini. Contohnya di dalam buku ini, tokoh Julian yang sering mengikuti lomba matematika maupun Devon yang sering ikut pertandingan sepak bola. Itu adalah cerminan masa SMA yang aku dan teman-temanku alami, bukan hanya masalah percintaan apalagi pamer kekayaan orang tua.

"Jangan pernah mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalah kalian. Berusaha mengatasi masalah dengan kekuatan sendiri, itulah yang membuat orang jadi dewasa." (hlm. 130)

Dari segi diksi, POV dan gaya penulisan, tidak ada masalah yang berarti buatku. Pesan moral yang ada dalam buku juga sangat bagus dan cukup thought-provoking karena aku sendiri pernah berada dalam posisi yang mirip. Aku sebagai bunga matahari dan ada role model yang kujadikan matahari. Kurang lebih aku mengakhiri masa itu dengan cara yang juga dilakukan tokoh dalam buku ini: dengan melepaskan beban itu dan belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Hidup ini hanya sekali, dan tidak baik juga untuk menyimpan beban psikis seperti itu terlalu lama.

"Bunga matahari selalu menghadap matahari," jelas Sophie. "Mengikuti ke mana pun matahari pergi. Berusaha menjadi seperti matahari dan tertekan karena sadar tidak akan pernah bisa, sekuat apa pun dia berusaha. Dan karena perhatiannya selalu tertuju pada apa yang dilihatnya, dia tidak bisa melihat ke dalam dirinya sendiri. Bunga matahari tidak sadar kelebihannya sendiri. Dia tidak sadar dia lebih tinggi dari rata-rata bunga pada umumnya. Tidak tahu bahwa dia cantik. Tidak tahu bahwa banyak orang yang lebih senang melihatnya daripada melihat matahari itu sendiri. (hlm. 153)

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

[Review] Linda Christanty - Rahasia Selma