[Review] Bey Tobing - Istana di Atas Pasir

Judul: Istana di Atas Pasir (Goodreads)
Pengarang: Bey Tobing
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020316536
Tahun: 2015
Tebal: 192 hlm.
Rating: 3.5/5 stars
Format: ebook
Mulai: 18 Januari 2016
Selesai: 18 Januari 2016


Sinopsis:
Mahar seratus juta telah meruntuhkan fondasi cinta Ivan dan Amara yang telah mereka coba bangun selama tiga tahun terakhir. Mereka berpisah, meninggalkan semua kenangan manis dan menutupnya menjadi lembaran masa lalu.

Amara mengikuti keinginan sang ibu untuk menikahi Adrik, lelaki sempurna berjabatan tinggi yang bergelimang harta. Semua berjalan sesuai yang diimpikan sang ibu, pada awalnya. Hingga Amara mulai menyadari betapa rapuh rumah tangganya.

Bertahun-tahun lewat, Amara tak sengaja bertemu kembali dengan Ivan. Semua telah berubah, kecuali rasa yang masih mewarnai hati keduanya.

Namun, apakah rasa itu cukup untuk membuat jatuh cinta menemukan jalannya? Atau mereka harus mempertahankan istana mereka masing-masing, yang dibangun di atas pasir?


Review:
Pertama kali aku baca buku ini di Ijak, trus suka. Nggak lama kemudian ada diskon pembelian di toko buku Gramedia dan aku langsung membeli buku ini. Jawabannya sih cukup jelas ya, karena warna covernya. Aku sukaaaa banget sama warna biru di cover ini :D

Memangnya aku ini apa? Batu bata? Bukan. Aku manusia. Punya air mata. Lalu apa itu gelak tawa? Itu cuma dusta. (hlm. 59)

Cerita di buku ini sangatlah menarik meskipun terdengar klise. Dua orang yang saling mencintai tidak dapat bersatu karena tidak disetujui keluarga salah satu pihak. Alasannya pun lebih klise lagi, karena harta, jabatan, prestige, dll.

Hidup bersama itu urusan komitmen. Dan komitmen itu mestinya bukan ikatan, tidak memasung setiap penghuninya. (hlm. 111)

Tapi yang membuat buku ini berbeda dari yang menyuguhkan kisah klise lainnya, adalah emosi yang ditunjukkan dengan sangat mendalam dari masing-masing tokoh dalam buku. Sebagai pembaca, aku bisa ikut merasakan sakitnya perasaan Amara dan Ivan saat mereka berusaha tapi tetap gagal untuk bersatu. Saking mendalamnya, aku sampai bingung sendiri antara ingin mereka bersatu dan ingin mereka berpisah saja agar masing-masing tidak tersakiti lagi.

Apakah daun dipaksa pergi dari pohon oleh angin, atau menggugurkan dirinya sendiri untuk membiarkan daun lain tumbuh? Atau mungkin, memang sudah saatnya daun itu gugur? (hlm. 117)

Kalau berbicara mengenai kekurangan buku ini, yang paling mendasar menurutku jumlah halamannya, hahaha. Terlalu tipis dengan ukuran font yang besar. So overall, 3.5 out of 5 stars :)

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

[Review] Linda Christanty - Rahasia Selma