[Review] Nurilla Iryani - Dear Friend with Love

Judul: Dear Friend with Love (Goodreads, Stiletto Book)
Pengarang: Nurilla Iryani
Penerbit: Stiletto Book
ISBN: 9786027572072
Tahun: Januari 2013 (Cetakan 2)
Tebal: 146 hlm.
Rating: 2/5 stars
Format: Paperback
Mulai: 10 April 2015
Selesai: 10 April 2015


Sinopsis:
Alkisah Rama dan Karin, dua manusia yang menjalin persahabatan dari masa kuliah. Selama 8 tahun pertemanan mereka, ternyata ada 'rasa' yang lain di hati Karin untuk Rama. Tapi bukannya menyadari ataupun membalasnya, Rama justru berulang kali mendekati perempuan lain dan hanya menganggap Karin sebagai teman. Yup, it's a friendzone story.


Review:
Buku ini awalnya aku baca karena tipis, hanya 146 halaman. Tapi setelah aku selesai membacanya dan melihat-lihat review orang lain, aku baru tahu bahwa buku ini awalnya ditulis di blog dearfriendwithlove.wordpress.com. Artinya buku ini memenuhi syarat untuk dibaca dalam acara Baca Bareng BBI.



Penulisnya sendiri bukanlah nama yang baru karena sebelumnya aku sudah pernah membaca The Marriage Roller Coaster yang aku nilai 'okay'. Buku ini sebetulnya akan masuk dalam kategori tersebut apabila selera buku yang aku baca tidak berubah dalam beberapa minggu terakhir. Kira-kira sejak awal bulan Februari aku mulai kurang suka dengan buku yang menempatkan kosakata atau frasa dalam bahasa Inggris di tengah-tengah kalimat dalam bahasa Indonesia. Dan karena perubahan selera itu aku memberikan buku ini hanya 2 bintang.

Ada tiga tipe pria di Jakarta Raya: Nice (and taken), Jerk (and forever available), and Gay (which I don't care taken or not). (hlm. 81)

Buku ini diceritakan dengan 2 sudut pandang, yakni Karin dan Rama. Aku pribadi lebih menyukai sudut pandang Karin karena lebih mudah visualisasinya. Saat sedang berada di sudut pandang Rama aku merasa bahwa dia terlalu girly dan tidak ada perbedaan sifat yang mencolok antara dirinya dan Rama. Mungkin karena dia digambarkan sebagai tokoh cerewet. Mungkin.

This girl is perfect. She's beautiful, inside and outside. Gue semakin yakin, di kehidupan sebelumnya gue pasti seorang pendekar baik hati penolong orang lemah yang juga selalu menolong nenek menyebrang jalan, makanya gue dapet calon istri seperti ini. (hlm. 75-76)

Hal yang berikutnya ini mirip seperti yang terjadi saat aku membaca buku Sweet Nothings. Kata 'gondol' yang digunakan beberapa kali di dalam buku seperti memiliki makna yang berbeda dengan yang aku ketahui. Menurut KBBI (http://kbbi.web.id/gondol), kata gondol artinya membawa lari. Kurang lebih seperti mencuri: mengambil benda dari suatu tempat lalu lari. Tapi penggunaan kata gondol dalam buku ini lebih seperti menjorokkan suatu benda ke orang lain. 

"Tante Titi. Itu lho, temen Bapak waktu tugas di Amerika dulu. Kamu lupa ya? Yang punya anak namanya Adam. Dulu sering kamu kejar-kejar sambil gondol tupai..." (hlm. 27)

Selain kata gondol itu, ada juga beberapa kata lain yang mungkin salah ketik atau memang kurang teliti. Yang aku temukan hanya yang ada di halaman 89 (memrioritaskan -> memprioritaskan) dan halaman 101 (You're -> Your).

Jealousy is an ugly thing. It makes you hate someone that you barely know. And to make it worst, you're the one who gets hurt, not that 'someone'. (hlm. 15)

Jalan ceritanya sendiri cukup tertebak sih, meskipun tetap seru. Dan meskipun aku kurang suka, tapi penulisan dalam bahasa Inggris di buku ini sangat baik, grammar dan penempatannya tepat, tidak berkesan tempelan. Dan ada cukup banyak quote dalam buku ini yang juga bagus.

Kasihan si waktu. Selalu diandalkan untuk menyembuhkan luka. Harusnya dia punya gelar dokter. (hlm. 119) 

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up