[Review] Alicia Lidwina - 3

Judul: 3 (Goodreads)
Pengarang: Alicia Lidwina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020316772
Tahun: 2015
Tebal: 320 hlm.
Rating: 4.5/5 stars
Format: ebook
Mulai: 6 Februari 2016
Selesai: 12 Maret 2016


Sinopsis:
"Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan."

Kalimat Hashimoto Chihiro membekas di kepala Nakamura Chidori, bahkan setelah Hashimoto bunuh diri. Apa sebenarnya yang mengubah pandangan hidup Hashimoto sampai dia mengakhiri hidupnya? Mungkinkah karena Nakamura tidak pernah menepati janjinya? Mungkinkah karena Nakamura menyimpan perasaan kepada Sakamoto, yang seharusnya merupakan sahabat mereka?

Setelah tujuh tahun tidak bertemu, Nakamura harus kembali berhadapan dengan masa lalunya. Di antara memori akan persahabatan, janji yang diingkari, impian, dan cinta yang tak berbalas, tersembunyi alasan kepergian Hashimoto yang sebenarnya.

Review:
Pertama kali aku mencoba membaca buku ini adalah bulan Februari. Sulit sekali bagiku untuk fokus pada buku ini saat itu, terutama karena belum terbiasa dengan nama Jepang yang mirip satu sama lain. Setelah lebih dari 1 bulan di rak currently reading Goodreads, akhirnya aku memaksakan diriku untuk menyelesaikan buku ini. Dan ya, aku selesai membacanya dalam 2 hari.
"Sakamoto... apa pendapatmu tentang orang yang tidak menepati janjinya?"
Pria itu berdeham, terlihat sedikit salah tingkah sebelum menggeleng. "Aku tidak tahu. Mengingkari janji dan berbohong adalah pekerjaanku. Mengkritik pengingkar janji rasanya terdengar bodoh untuk orang yang suka mengingkari janji." (hlm. 43)
Seperti yang tertulis di sinopsis, buku ini diawali dengan bunuh diri Hashimoto dan dilanjutkan dengan kehidupan Nakamura pasca kejadian itu. Secara alur cerita, buku ini bolak-balik antara masa lalu mereka saat sekolah, saat tinggal bersama, sampai kejadiaan pasca kematian Hashimoto.
Persahabatan adalah sesuatu yang tidak jelas. Tidak mungkin seseorang yang tertawa bersama orang lain dikatakan bersahabat. Ketika seseorang meluangkan waktu untuk orang lain, meskipun dia harus mengorbankan waktunya sendiri, apakah itu juga disebut persahabatan? (hlm. 84)
Bagian tersulit dari buku ini untukku bukan alur cerita tersebut, tapi nama karakternya. Nama mereka terlalu mirip: Hashimoto, Nakamura, dan Sakamoto. Belum lagi kalau mereka sedang dipanggil dengan nama belakang mereka. Aku tambah tidak mengerti.
"Jangan menanggalkan hal-hal yang baik, Nakamura. Jangan sekalipun melakukannya," ujar Hashimoto dengan serius. "Kalau kau melakukannya, bukan saja kau akan kehilangan hal-hal tersebut, tapi lebih buruk lagi, mereka akan menjadi kenangan. Dan kau akan menyesali perbuatanmu di kemudian hari, karena kau sudah membuang hal-hal yang baik adanya dan menyenangkan itu, hanya karena kau takut mendapatkannya." (hlm. 136-137)
Banyak bagian di buku ini yang membuat emosiku naik-turun. Kadang kesal dengan kelakuan mereka, kadang sedih. Hebatnya, aku tidak menyadari hal itu sampai menyelesaikan buku ini. Karena saat aku selesai membacanya, aku hanya berniat untuk memberikan buku ini 3 bintang. Tapi berhari-hari kemudian, aku terus berpikir tentang apa yang mereka rasakan. Seakan-akan buku ini punya haunting atmosphere dan aku terus mengingat betapa sakit dan mungkin tidak sanggupnya aku kalau berada di posisi mereka. 
"Kalau kau merasa sendirian dan tidak memiliki siapa-siapa di sisimu, aku akan menemanimu. Aku akan berada di sisimu sampai ibumu datang. Sampai seseorang datang dan membuatmu tidak merasa kesepian lagi. Sampai kau bisa kembali tertawa, menangis, atau  merajuk kembali."
Kemudian dia mengayunkan dirinya, dan berbisik, "Sampai hujan." (hlm. 290-291)
Jadi, aku putuskan untuk memberikan buku ini 4.5 bintang karena Alicia Lidwina telah berhasil membuat novel yang tidak hanya membahas kehidupan perkotaan tapi juga emosi manusia-manusia di dalamnya.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up