[Review] Andrei Aksana - Angin Bersyair

Judul: Angin Bersyair (Goodreads)
Pengarang: Andrei Aksana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020311585
Tahun: 2014
Tebal: 216 hlm.
Rating: 3.5/5 stars
Format: Paperback
Mulai: 14 Oktober 2015
Selesai: 24 Oktober 2015


Sinopsis:
Berbekal secarik kertas aku berangkat. Dituliskan begitu tergesa oleh Kiev, arsitek yang menjadi kekasihku, di atas selembar kertas yang sembarang dirobek. Alamat tanpa nama jalan dan nomor, membawaku menjelajahi Ubud.

Di sanalah aku memulai titik nol. Membaca isyarat-isyarat alam yang disampaikan sawah, sungai, lembah. Mempertemukanku dengan Raka, dosen seni dan pelukis, yang mengajariku tentang ketabahan yang sederhana, dan Nawang, dunia yang diam, yang memperkenalkanku kepada angin.

Jawaban yang kucari malah menuntunku menemukan kertas-kertas yang lain. Rahasia-rahasia, yang dikisahkan angin...

Review:
Ini buku pertama Andrei Aksana yang pernah aku baca. Siapa dia dan buku apa saja yang pernah ia tulis tidak aku ketahui saat memilih buku ini untuk dibaca. Yang aku inginkan saat itu hanyalah buku dengan jalan cerita yang tidak rumit dan secara keseluruhan memiliki efek 'menenangkan' untukku. Dan buku ini benar-benar sesuai dengan ekspetasiku saat itu.

Kurasakan angin semilir menerpa wajah, seperti sentuhan kain tenun ikat halus yang membelai kulit dengan lembut. Perlahan membuka sumbat yang selama ini mengganjal dalam diriku, entah di mana. Di sini, entah mengapa, hatiku merasa demikian ringan. (hlm. 35)

Gaya penulisan pada buku ini puitis banget. Efeknya, jalan cerita pada buku ini berlangsung lambat meskipun ada beberapa bagian yang cukup menarik. Twist pada buku ini mudah ditebak tapi tetap bisa dinikmati.

Seperti siklus alam yang berputar sesuai jadwalnya. Ia menjadi embun yang merebak di pagi hari, perlahan, tak terburu-buru. Menjadi awan berarak di siang hari, tak mencoba melawan terik matahari. Menjadi jingga ketika senja, mengurangi kegiatan yang tak perlu. Menjadi rembulan di malam yang siap mengantarkan beristirahat. (hlm. 72)

Secara keseluruhan aku cukup menikmati jalan cerita pada buku ini. Ending buku ini juga sesuatu yang aku sukai karena konsisten dengan sifat karakter-karakternya dari awal cerita. Mirip seperti Tris pada Allegiant dan keputusan yang dia ambil di ending buku itu. Bukan sesuatu yang menyenangkan tapi konsisten dengan sifat aslinya.

Layang-layang oleng, karena kita tidak dapat mengendalikan arah angin, ujar Raka perlahan, berdesir di telingaku. Angin bertiup ke sana kemari, kamu tidak boleh percaya pada sesuatu yang tidak dapat digenggam. (hlm. 206)

Aku belajar banyak sekali hal baru dari buku ini. Terutama tentang adat istiadat dan kebudayaan di Bali. Juga belajar mencintai alam sekitar dan hal-hal lainnya. Jadi 3.5 bintang untuk buku yang simple dan sweet ini :)

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up