[Review] Alexandra Leirissa Yunadi - Bidadari Santa Monica

Judul: Bidadari Santa Monica (Goodreads)
Pengarang: Alexandra Leirissa Yunadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792248845
Tahun: 2009
Tebal: 368 hlm.
Rating: 3/5 stars
Format: Paperback
Mulai: 12 Maret 2016
Selesai: 13 Maret 2016


Sinopsis:
Bagi Pelita, hidup ini bagaikan kepingan penuh warna. Dan Efraim-lah pemberi warna hidupnya. Namun karena Efraim juga, Pelita terperangkap dalam warna abu-abu: remuk hari berkepanjangan.

Lalu dia bertemu dengan pengamen cantik di Santa Monica, Amerika. Konon, orang-orang memanggil gadis itu dengan julukan Bidadari Santa Monica. Pelita terpesona pada sang bidadari. Mendatanginya setiap hari, mendengarkan lantunan lagu dan petikan harpanya dalam derai air mata, sambil tak henti-henti mengaguminya.

Lalu, pada hari yang ketujuh...

"Pelita!" dengan fasih, bule jelita itu menyebut namanya.

"That's your name, right?"

Pelita terkesima. Tak mengerti bagaimana mungkin bidadari cantik itu mengetahui namanya. Nama yang terasa asing saat diucapkan lidah bule seperti pengamen itu. Tapi tak hanya itu...

"See you later, Little Shine...," bahkan gadis cantik yang tak mungkin bisa bahasa Indonesia itu menyebutkan arti dari namanya.

Pelita pun mulai mereka-reka, siapa gadis bermata biru itu sebenarnya? Mengapa bidadari itu begitu tertarik pada masa lalunya?

Review:
Secara fisik buku, aku cukup suka dengan warna covernya, cerah. Sinopsisnya juga cukup menarik sehingga aku membeli buku ini beberapa tahun yang lalu.
Jingga
Ini warna tomat yang akan matang. Ini warna jeruk yang menggugah selera. Ini warna perasaanku saat mulai jatuh cinta.
Aku cukup suka dengan jalan cerita di buku ini. Lumayan misterius, diawali dengan pertemuan antara Pelita dengan Bidadari Santa Monica. Dan bahkan twist di akhir cerita juga menambah keseruan saat membaca buku ini.
Magenta
Seperti benci dan cinta... kupikir, jatuh cinta dan patah hati hanya setipis benang. Karena itu kupilih warna magenta. Karena magenta itu keunguan. Tapi Magenta juga merah muda.
Magenta itu... saat cinta yang ada tak cukup lagi dilukiskan dengan warna merah muda.
Sayangnya, ada tokoh yang namanya Pelita. Ya, aku tahu dia memang tokoh utama dalam buku ini. Tapi apa iya dia harus bersikap sangat kekanakan seperti yang digambarkan? I mean, come on... Berkali-kali aku bosan di tengah cerita hanya karena kelakuannya. Berulang kali pula aku cek bahwa ini buku Metropop dan bukan Teenlit karena berada di kepalanya sungguh sangat melelahkan.
Biru
Entah mengapa orang memilih warna biru untuk melukiskan kesedihan, aku tak pernah mengerti. Menurutku, biru warna yang indah. Namun, kalau memang menyedihkan, biarlah biru menjadi warna kesedihan yang masih bisa kunikmati.
Terakhir, aku cukup suka dengan penggunaan deskripsi warna yang sesuai dengan emosi Pelita. Menurutku itu jadi salah satu poin plus untuk buku ini. Jadi 3 dari 5 bintang untuk buku ini.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up