[Review] Icha Ayu - Remember Paris

Judul: Remember Paris: 11.369 km untuk satu cinta (Goodreads, Stiletto Book)
Pengarang: Icha Ayu
Penerbit: Stiletto Book
ISBN: 9786027572317
Tahun: Agustus 2014 (Cetakan I)
Tebal: 262 hlm.
Rating: 4/5 stars
Format; Paperback
Mulai: 4 Juni 2015
Selesai: 5 Juni 2015

Sinopsis:
Perpisahan Kirana dari Manu membuatnya kembali teringat akan hari-hari yang mereka lalui ketika masih mengikuti short course program di Jenewa-Swiss. Semuanya sempurna: kehidupannya bersama host family, keseruan bersama para sahabatnya, dan tentu saja, kebersamaannya dengan Manu, lelaki Prancis yang menjadi kekasihnya.

Empat tahun, bukan waktu yang singkat untuk bisa melupakan seseorang. Takdir pun seolah masih berpihak pada hubungan mereka. Saat Kirana ditugaskan ke Paris untuk meliput berita, kenangannya bersama Manu kembali muncul. Kirana tak tahu apa yang harus dilakukan, yang dia tahu, Paris tidak lagi sama seperti ketika dia meninggalkan kota itu.

"Don't ever leave me alone again and I promise that I'll never let you go!" janji Manu ketika akhirnya menemui Kirana di Trocadero, di malam terakhir kunjungan Kirana ke Paris. Apa yang terjadi setelahnya? Mungkinkah satu cinta yang mereka miliki dapat menghapus 11.369 perbedaan yang ada?


Review:
Pengalaman yang cukup buruk setelah membaca Distance membuatku jadi malas membaca buku ini. Sayangnya aku sudah membeli buku Remember Paris sehingga mau tidak mau aku paksa diriku sendiri untuk menyelesaikan buku ini. Apabila aku cepat selesai maka aku akan segera terbebas dari siksaan 2 buku ini. Or so I thought. Pada akhirnya aku merasa bahwa buku Remember Paris jauh lebih baik dan matang dibanding buku sebelumnya.

Aku mengalah pada kenyataan bahwa kami berdua memang terlalu berbeda untuk bisa bersatu. Aku pun menyadari satu hal, jarak tidak selalu membuat semua menjadi sulit bahkan terkadang dekatlah yang membuat segalanya jauh lebih rumit. (hal. 5)

Kekurangan dari segi typo, repetisi dan kalimat yang kurang efektif masih ada di buku ini. Begitu juga dengan gaya penulisan yang menjelaskan hal yang sudah jelas, seperti: A berkata, "Aku kesal karena kamu menyebalkan". Aku sungguh sangat kesal dengan B karena dia menyebalkan. 2 hal itu yang membuatku agak kurang menikmati buku ini pada awalnya.

Aku kembali mempertanyakan, bukan lagi mengapa, tapi haruskah mencintai dan dicintai begitu rumit saat orang-orang di sekeliling juga mulai berbicara? (hal. 153)

Setelah kembali terbiasa dengan gaya penulisan itu, akhirnya aku mulai belajar untuk menerima dan menyukai buku ini. Kerumitan hubungan Manu dan Kirana serta beragam solusi yang coba mereka jalankan untuk tetap bersama dijabarkan dengan lebih baik. Meskipun ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan sudut pandangku, tapi aku bisa memahami alasan pengambilan keputusan mereka itu.

Saat ini, aku mengerti bahwa mencintai dan dicintai adalah sebuah pilihan dan aku sudah memilih untuk berbahagia bersamanya walaupun kami berdua berbeda. Dengan mengabaikan apa pun yang orang-orang akan katakan mengenai hubungan kami berdua, aku tidak lagi takut karena aku tahu bahwa aku tidak menghadapi perbedaan itu sendirian. (hal. 183)

Poin bagus lain dari buku ini adalah dampak hubungan mereka pada keluarganya Kirana. Sebagai pembaca aku diajak untuk menyelami pikiran kedua orang tua Kirana tentang hubungan anaknya, bagaimana sudut pandang mereka dalam hal ini, dst. Bagian ini membuatku belajar untuk melihat kelakuan diriku di masa lalu tidak hanya dari sudut pandangku saja tapi juga dari sudut pandang orang tuaku. Dan aku akhirnya bisa mencoba mengerti segala larangan dari kedua orang tuaku dan alasan dibaliknya.

Overall, 4 out of 5 stars.

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

December 2017 Book Haul & Wrap Up